tempat wisata keluarga, Kota Bukittinggi juga memiliki tempat
yang memiliki antara generasi dijadikan sebagai warisan nilai-nilai perjuangan
1945. Tempat tersebut bernama Museum
Tri Daya Eka Dharma.
Didalam museum ini
dapat disaksikan peninggalan sejarah tempo dulu, sepert
i pesawat, senjata, alat
komunikasi serta foto-foto perjuangan pada melawan penjajah Belanda dan Jepang.
Museum ini berlokasi di Jalan Panorama nomor 24, Kecamatan guguk panjang,
Kelurahan Kayo Kubu, Kota Bukittinggi. Tidak begitu sulit menemukan lokasi
museum ini, karena gedung museum ini berada tepat didepan Taman Panorama yang
terkenal dengan objek wisata Lobang Jepang
nya.
Museum
yang memiliki arti tiga unsur kekuatan satu pengabdian atau dalam istilah orang
Minang, “Tigo Tungku Sajarangan”
ini didirikan berkat prakarsa Bridgjen Widodo yang merupakan salah seorang
pimpinan TNI wilayah Sumatera Tengah pada saat itu. Kemudian, gagasan ini
dilanjutkan oleh Brigjen Soemantoro pada 16
nilai sejarah.
Terdapat sebuah museum yang menjadi sarana komunikasi Selain Agustus 1973,
sekaligus meresmikannya sebagai museum.
Kota Bukittinggi
dipilih sebagai tempat dibangunnya museum ini karena Kota Bukittinggi adalah
Kota perjuangan yang pernah dijadikan ibu kota Provinsi Sumatera dan ibu kota
Negara RI ke 3 setelah Jakarta dan Yogyakarta pada saat Pemerintahan Darurat
RI. Dahulunya gedung ini merupakan tempat peristirahatan Gubernur
Sumatera. Berkat bantuan Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Barat dan Kodam III/17 Agustus, gedung ini sempat
dipugar sebelum diresmikan.
Pertama kalinya,
koleksi yang dimiliki museum ini sangat terbatas. Namun seiring dengan
berjalannya waktu, koleksinya terus dilengkapi. Saat ini, koleksi utama museum
ini terdiri dari beragam alat persenjataan, mulai dari yang tradisional dan
modern seperti pistol, senjata laras panjang, senjata mesin serta
mortir. Beberapa diantaranya berasal dari hasil rampasan perang pada saat
melawaan Belanda dan Jepang. Koleksi lainnya yaitu pesawat pemancar dan
penerima radio YBJ 6, pesawat AT 16 Hervard B 419 yang dahulu berfungsi untuk
menumpas gerombolan PRRI 1958 di Sumatera Barat. Semua koleksi ditata dengan
rapi, baik didalam vitrin maupun diluar vitrin.
Terkhusus untuk
pemancar YBJ 6, ini adalah pemancar yang
dibawa rombongan PTT Bukittinggi pada saat perang kemerdekaan ke dua, yaitu
pada tahun 1948 sampai 1949. Pesawat ini digunakan oleh Syafroeeddin
Prawiranegara sewaktu PDRI agar dapat
terhubung dengan daerah yang ada di Indonesia maupun luar negeri. Terutama
dengan India, karena pada saat itu beberapa perwakilan negara berada di New
Delhi.
Selain senjata dan
pesawat, terdapat foto-foto berupa momen disaat perjuangan kemerdekaan Republik
Indonesia. Selengkapnya, museum Tri Daya Eka Dharma terdiri dari 103 pucuk
senjata api, alat peledak atau amunisi 73/B, 13 jenis alat komunikasi, 1 buah
pesawat tempur serta 100 buah foto-foto perjuangan.
Untuk menuju museum
ini amatlah mudah, karena letaknya yang persis di depan Ngarai Sianok. Untuk
masuk museum, tidak ada tarif khusus yang ditetapkan oleh pengelola. Jadi museum
ini amatlah cocok bagi pecinta sejarah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar